Tuesday, March 21, 2017

Bahkan Hewanpun Mampu Menilai Kepribadian Manusia

Jadilah orang yang baik, karena bahkan hewanpun mampu menilai Anda.  Baik anjing maupun monyet peliharaan menunjukkan preferensi terhadap orang yang suka membantu orang lain, dan hasil ini mungkin juga menerangkan asal muasal moral-moral dasar manusia.

Monyet Capuchin sedang berbagi makanan
gambar asli oleh Frans de Waal
Lisensi Creative Commons
Pada usia satu tahun, bayi manusia sudah mulai dapat menilai orang lain berdasarkan bagaimana orang tersebut berinteraksi (Hamlin, et.al., 2007). Hal ini memperkuat anggapan bahwa bayi sudah memiliki nilai-nilai moral dasar sebelum mereka mulai diajari bagaimana untuk berperilaku. Tim dari Kyoto University, Jepang, yang dipimpin oleh ahli psikologi komparatif James Anderson, tertarik untuk meneliti apakah spesies lain juga melakukan proses evaluasi yang sama dengan manusia.

Mereka memulainya dengan meneliti apakah monyet capuchin memiliki preferensi terhadap orang yang suka membantu orang lain atau tidak. Monyet-monyet ini diajak untuk menyaksikan seorang aktor (aktor A) yang bertingkah seolah-olah tengah kesulitan membuka sebuah wadah yang berisi mainan. 

Aktor A kemudian pura-pura meminta bantuan kepada aktor lain (Aktor B) untuk membuka wadah tersebut. Aktor B bisa memutuskan untuk membantu aktor A maupun tidak. Kedua aktor kemudian menawari monyet-monyet ini makanan. Monyet-monyet ini bebas memilih makanan yang ditawarkan oleh aktor mana yang akan mereka terima. Jika aktor B memutuskan untuk membantu aktor A, maka monyet-monyet ini tidak memiliki preferensi antara aktor A dan aktor B. Akan tetapi ketika aktor B tidak membantu aktor A, maka monyet-monyet ini lebih memilih untuk mengambil makanan dari aktor A. Anjingpun menunjukkan perilaku yang sama.

Tim ini juga meneliti penilaian monyet-monyet capuchin terhadap keadilan. Dalam tes ini aktor A meminta bola dari aktor B. Aktor B kemudian menyerahkan tiga buah bola kepada aktor A. Akan tetapi, ketika aktor B meminta kembali bolanya, aktor A dapat mengembalikan seluruhnya, atau tidak mengembalikannya sama sekali. Kedua aktor ini kemudian kembali menawarkan monyet-monyet ini makanan.

Monyet-monyet ini tidak memiliki preferensi ketika aktor A mengembalikan seluruh bola yang ia terima. Akan tetapi mereka lebih memilih aktor B ketika aktor A tidak mau mengembalikan bola yang diterimanya (Anderson et.al., 2017).

Berdasarkan hasil-hasil ini, tim menyimpulkan bahwa monyet dan anjing juga melakukan evaluasi sosial sebagaimana halnya bayi manusia. Oleh karenanya, jika seseorang melakukan tindakan anti sosial ia cenderung akan menerima reaksi emosional.

Hubungan jangka panjang yang dimiliki oleh anjing dengan manusia memungkinkan mereka untuk menjadi sangat sensisitif terhadap perilaku kita. Tidak hanya perilaku kita terhadap mereka, akan tetapi juga perilaku kita terhadap manusia lain. Akan tetapi tim peneliti lain dari  Emory University, Georgia, menyatakan bahwa monyet-monyet di alam liar juga nampaknya menggunakan proses yang sama untuk memutuskan mana anggota kelompoknya yang dapat diajak bekerja sama. Jika binatang-binatang ini dapat mendeteksi tendensi untuk bekerja sama antar aktor manusia, maka mereka juga mampu menilai perilaku sesama primata. Sebaliknya, kemampuan manusia untuk membentuk moralitas mungkin juga terjadi dengan cara yang serupa. Menurut Anderson, pada manusia mungkin terdapat sensitifitas dasar terhadap perilaku antisosial, sensitifitas ini kemudian dilengkapi melalui interaksi dalam budaya tertentu dan ajaran moral dari orang lain.

Kapasitas untuk menilai orang lain berfungsi menstabilkan kelompok sosial yang kompleks, karena dengan kemampuan ini orang dapat mengesampingkan anggota kelompok yang tidak bermanfaat atau mau menang sendiri. Hal ini dapat mencegah perilaku buruk dan interaksi sosial yang merusak. Pendapat ini dikemukakan oleh Kiley Hamlin dari University of British Columbia, Canada.

Kelompok peneliti yang dipimpin oleh De Waal juga melihat adanya hubungan kuat antara moralitas dan reputasi (De Waal & Luttrell, 1988). Menurutnya, perilaku bermoral yang ditunjukkan oleh manusia merupakan upaya untuk membangun reputasi. Orang tidak akan berusaha untuk menjadi baik jika tidak memperoleh perhatian dari orang lain. Kita memang tidak bisa menyebut monyet sebagai mahluk yang bermoral, akan tetapi dalam kehidupan sosial mereka memiliki perilaku yang amat penting.

Daftar Pustaka

  1. Anderson, J. R., Bucher, B., Chijiiwa, H., Kuroshima, H., Takimoto, A., & Fujita, K. (2017). Third-party social evaluations of humans by monkeys and dogs. Neuroscience & Biobehavioral Reviews.
  2. De Waal, F. B., & Luttrell, L. M. (1988). Mechanisms of social reciprocity in three primate species: symmetrical relationship characteristics or cognition?. Ethology and Sociobiology, 9(2-4), 101-118.
  3. Hamlin, J. K., Wynn, K., & Bloom, P. (2007). Social evaluation by preverbal infants. Nature, 450(7169), 557-559.

No comments:

ShareThis