Friday, March 3, 2017

Perilaku Warisan Nenek Moyang Pada Manusia Modern

Semaju apapun budaya dan teknologi yang telah kita capai saat ini, naluri-naluri  nenek moyang tetap bertahan. 

Evolusi struktur masyarakat dan posisi individu di dalamnya
diambil dari Ronfeldt (1996).
Kita kini hidup di zaman dengan kondisi yang sangat berbeda dengan zaman ketika manusia tengah berevolusi. Ketika itu bertahan hidup amat sulit bagi manusia manapun. Kondisi yang keras mendorong munculnya kerja sama antar manusia dalam kelompok-kelompok kecil, yang sering hanya terdiri atas sanak saudara, dan mengutamakan ikatan sosial yang sangat kuat.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, perkembangan sistem informasi yang sangat luas, ditambah dengan membanjirnya informasi mengenai barang komersial dengan harga terjangkau, telah memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan sangat banyak orang semasa hidup kita. Akan tetapi interaksi-interaksi tersebut umumnya hanya sepintas lalu. Walaupun pemikiran rasional dan terdidik kita mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan, akan tetapi insting dasar kita ternyata berevolusi dengan jauh lebih lambat. Secara biologis, tidak ada perbedaan antara otak manusia yang mendarat di bulan dengan otak manusia pemburu mammoths pada zaman es. Dan naluri, emosi, dan sikap-sikap ini (yang bagi nenek moyang kita penting untuk bertahan hidup dan berkembang biak ketika mereka hidup di padang rumput Afrika) masih sangat mempengaruhi cara kita mengambil keputusan dan bertindak.

Bagi manusia purba, diterima dalam sebuah suku sangat penting demi keberlangsungan hidup. Hal ini dikarenakan interaksi dengan orang asing amat jarang terjadi. Oleh karenanya, setiap interaksi sosial memiliki konsekuensi yang penting bagi peran seseorang dalam suatu suku, struktur kesukuan ini menghasilkan suatu hirarki sosial yang amat kaku. Penghormatan bagi hirarki semacam itu, yang dapat dicerminkan dengan kepatuhan terhadap tokoh penguasa / pemimpin, didemonstrasikan dalam suatu percobaan yang disebut Stanley Milgram' experiment. Ketika peserta diminta untuk menyetrum seseorang, maka 65% akan mematuhinya. Padahal, mereka telah diberi tahu dan memahami bahwa tegangan listrik yang diberikan (hingga 450 volt) akan terasa amat menyakitkan (Milgram, 1963). Para peneliti juga telah menunjukkan bahwa dalam suatu pemilihan kita cenderung memilih kandidat yang berbadan lebih tinggi dan lebih tampan. Hal ini dianggap merefleksikan dominasi pria yang secara fisik sehat dan kuat dalam sebuah suku (Murray & Schmitz , 2011; White et.al., 2013). Bahkan ada riset yang menunjukkan bahwa anak-anak mampu memprediksi pemenang pemilu hanya dengan melihat foto-foto para kandidat (Antonakis & Dalgas, 2009). Pemikiran-pemikiran ini semestinya sudah ditinggalkan, karena dalam dunia modern kesuksesan tidak lagi ditentukan dengan performa fisik.

Hirarki kesukuan juga mungkin mempengaruhi perasaan marah yang berlebihan atas perselisihan-perselisihan yang nampak sepele. Dalam sebuah suku, para individu (khususnya pria) perlu bertindak tegas untuk memperoleh akses terhadap makanan dan wanita. Kala ini, ketika seseorang berhadapan dengan orang yang nampak memaksakan kehendaknya, naluri agresif kita akan muncul hingga salah satu dapat dipinggirkan.

Suasana kesukuan juga menanamkan perilaku untuk membedakan-bedakan berdasarkan perbedaan imaginatif antara satu kelompok dengan kelompok lain, misalnya patriotisme dan xenophobia. Berbagai percobaan telah menunjukkan bahwa orang yang asing satu sama lain, jika dikelompok-kelompokkan, akan cenderung membentuk perilaku diskriminatif (Tajfel, 1970). Para ilmuwan berpendapat bahwa prasangka merupakan suatu naluri yang ditumbuhkan untuk melindungi suku dari orang luar yang dapat merugikan kelompok, dengan menyebarkan penyakit, mencuri makanan atau melakukan kekerasan (Cottrell & Neuberg, 2005). Contoh nyata saat ini misalnya, karena munculnya ketakutan akan membanjirnya imigran warga Kerajaan Inggris lebih memilih untuk meninggalkan Uni Eropa. Sentimen ini juga berperan penting dalam kemenangan Donald Trump sebagai presiden Amerika. Ini merupakan bukti-bukti bahwa naluri nenek moyang masih berperan besar dalam cara kita mengambil keputusan di zaman modern ini. Bisa saja perilaku ini juga turut mempengaruhi dinamika politik di Indonesia dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pemilihan Presiden 2019 nanti.  

Bagi mereka yang berada dalam tingkatan sosial yang lebih rendah, menyesuaikan diri dengan dengan pandangan kelompok yang sudah lama ada (turun temurun) sering merupakan strategi paling aman. Ketakutan akan dipermalukan, ditentang atau ditolak merupakan tendensi manusia lainnya yang berakar pada kebutuhan untuk diterima dalam sebuah suku. Sebuah eksperimen sosial klasik menunjukkan bahwa 35 persen mahasiswa memilih jawaban yang jelas-jelas salah ketika menebak panjang sebuah garis lurus. Jawaban ini diberikan karena mereka menuruti jawaban peserta eksperimen lain, yang sebenarnya merupakan anggota tim peneliti dan sengaja memberikan jawaban yang salah (Asch, 1951).  Naluri untuk ingin diterima secara sosial dapat menjelaskan mengapa banyak orang yang takut untuk berbicara di depan umum. Walaupun pada kenyataannya belum tentu kita akan bertemu lagi dengan orang yang mendengar pembicaraan kita, kita masih takut akan penolakan atau dipermalukan. Perilaku warisan nenek moyang kita ini telah dimanfaatkan oleh berbagai perusahaan untuk memasarkan produknya. Mereka memanfaatkan selebriti sebagai endorser agar produknya lebih laku. Selebriti, merupakan sosok-sosok yang paling bisa diterima oleh masyarakat. Karena konsumen ingin juga diterima sebagaimana halnya sang selebriti, maka mereka akan tertarik untuk membeli produk yang dipakai selebriti tersebut.

Di antara seluruh perilaku warisan tadi, sikap picik mungkin merupakan warisan yang paling nyata. Kita menanggapi bahaya yang nyata dan akan terjadi dalam waktu dekat dengan cepat, tetapi selalu meremehkan bahaya laten yang belum nyata dan belum terjadi. Misalnya, jauh lebih banyak orang yang mati akibat penyakit diabetes dibandingkan dengan tindak terorisme, jauh lebih banyak orang yang mati karena kangker dibandingkan karena dipatuk ular. Mengapa? karena tindakan terorisme dan gigitan ular dapat membunuh anda besok, sehingga anda akan amat berhati-hati. Kepicikan jugalah yang membuat orang amat sulit merespon pemanasan global, karena isu ini dampaknya sulit diukur dan membutuhkan waktu yang lama untuk terjadi.

Perilaku-perilaku nenek moyang ini merupakan bagian dari diri kita. Mempelajari kondisi lingkungan dan sosial masa lalu, dapat membantu kita untuk memahami jiwa masyarakat modern. Mempelajari perilaku-perilaku ini juga membantu kita untuk mengatasi dampak kekunoannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Daftar Pustaka

  1. Antonakis, J., & Dalgas, O. (2009). Predicting elections: Child's play!. Science, 323(5918), 1183-1183.
  2. Asch, S. E. (1951). Effects of group pressure upon the modification and distortion of judgments. Groups, leadership, and men. S, 222-236.
  3. Cottrell, C. A., & Neuberg, S. L. (2005). Different emotional reactions to different groups: a sociofunctional threat-based approach to" prejudice". Journal of personality and social psychology, 88(5), 770.
  4. Milgram, S. (1963). Behavioral Study of obedience. The Journal of abnormal and social psychology, 67(4), 371.
  5. Murray, G. R., & Schmitz, J. D. (2011). Caveman politics: Evolutionary leadership preferences and physical stature. Social Science Quarterly, 92(5), 1215-1235.
  6. Ronfeldt, D. (1996). Tribes, institutions, markets, networks: A framework about societal evolution.
  7. Tajfel, H. (1970). Experiments in intergroup discrimination. Scientific American, 223(5), 96-102.
  8. White, A. E., Kenrick, D. T. & Neuberg, S. L. 2013. ‘Beauty at the Ballot Box: Disease Threats Predict Preferences for Physically Attractive Leaders’, Psychological Science, 24, 2429–36.

No comments:

ShareThis