Saturday, March 4, 2017

Suatu Saat Nanti Planet Mars Mungkin Akan Memiliki Cincin

Para peneliti telah menemukan gejala-gejala awal dari pembentukan cincin di Planet Mars. Dalam beberapa juta tahun ke depan, gravitasi Planet Mars diduga akan meluluh lantakkan satelitnya yaitu Phobos. Pecahan-pecahannya kemudian akan membentuk cincin pipih sebagaimana yang dimiliki oleh Planet Saturnus. Dan nampaknya pada saat ini sudah mulai ada pecahan-pecahan dari kedua bulan Planet Mars ini yang mengelilinginya dan membentuk cincin tipis. 

Foto planet Mars diambil pada tahun 1980 oleh NASA
(sumber : http://photojournal.jpl.nasa.gov/catalog/PIA00407 )
Lisensi Public domain 
Para astronom telah lama menduga bahwa Planet Mars bisa saja dikelilingi oleh sebuah cincin yang tersusun atas butiran batu yang terlempar dari kedua bulannya yaitu Phobos dan Deimos.

Pada tahun 1980 pencarian cincin Planet Mars dilakukan dengan menggunakan data pencitraan dari wahana Viking Orbiter 1. Pencarian yang dilakukan di antara orbit Phobos dan ±350 km di atas garis katulistiwa Mars ini gagal membuktikan keberadaan cincin Planet Mars (Duxbury & Ocampo, 1988). Para peneliti memunculkan dua buah kemungkinan. Kemungkinan pertama, memang cincin Planet Mars itu tidak ada. Atau kemungkinan kedua, cincin Planet Mars itu ada, tetapi sulit dilihat dari bumi maupun dengan menggunakan teleskop luar angkasa.

Akan tetapi, pada tahun 2013 lalu satelit yang bernama the Mars Atmosphere and Volatile Evolution (MAVEN) menangkap keberadaan awan debu yang tinggi di sekitar planet ini. Tim MAVEN tidak dapat mengklarifikasi berapa ukuran partikel-partikel debu ini maupun darimana asalnya. Akan tetapi mereka menyatakan bahwa partikel-pertikel ini tersebar secara merata dan tidak terkonsentrasi membentuk pola cincin. Penyebaran ini menandakan bahwa partikel-partikel ini tidak berasal dari Planet Mars itu sendiri.

Analisis mutakhir dari data yang dimiliki tim MAVEN menunjukkan bahwa Planet Mars dikelilingi oleh cincin-cincin primitif (proto-rings) yang tersusun atas debu dan material lain yang berasal dari bulan-bulannya.

Jayesh Pabari dari Physical Research Laboratory di Ahmedabad, India, dan rekan-rekannya membandingkan pengukuran debu dari data MAVEN, dengan model-model yang didasarkan atas asumsi-asumsi yang ada mengenai banyaknya meteorit menghantam Planet Mars dan bulan-bulannya. Mereka berpendapat bahwa, gravitasi Planet Mars memerangkap partikel-partikel besar yang terpental akibat tumbukan-tumbukan ini, hingga akhirnya terbentuk cincin primitif di sepanjang orbit kedua bulan Planet Mars, sementara partikel-partikel yang kecil hilang terhempas oleh angin matahari (solar winds). Proses ini diduga akan terus berlangsung ketika gravitasi Planet Mars menarik  Phobos mendekatinya, dalam 20 hingga 70 juta tahun ke depan, dan menghancurkannya. Kelompok peneliti ini menyimpulkan bahwa 0.6% dari debu yang ditemukan MAVEN adalah material pembentuk cincin yang terpental dari Phobos dan Deimos (Pabari & Bhalodi, 2017).

Tim MAVEN masih belum mayakini adanya cincin primitif ini. MAVEN terbang menuju Phobos pada tahun 2016, dan pemimpin operasi ini tidak mengamati adanya peningkatan jumlah debu sepanjang orbitnya, ujar Bruce Jakosky seorang peneliti dati the University of Colorado Boulder.

Banyak informasi mengenai kabut debu ini yang masih kabur, karena MAVEN tidak didesain untuk mencari dan mengumpulkan debu. Selain itu memang belum ada wahana lain yang mampu mengumpulkan sampel debu yang telah mengunjungi Mars. Sebuah wahana milik Jepang bernama Nozomi memiliki perlengkapan untuk melaksanakan tugas ini. Sayangnya, permasalahan kelistrikan menggagalkan wahana tersebut untuk mendarat di Planet Mars pada tahun 2003. Pabari telah mendesain dan mengusulkan misi penyelidikan debu Planet Mars ini dalam sebuah misi yang disebut the Mars Orbit Dust Experiment (MODEX) yang akan dilaksanakan oleh wahana selanjutnya.

“Untuk memberikan kepastian mengenai debu Planet Mars ini, Anda harus memiliki detektor khusus" ujar Laila Anderssen, yang juga berasal dari University of Colorado Boulder. Ia masih menganalisa gejala elektronik pada temuan debu dari MAVEN. “Kita masih belum melihat indikasi mengenai adanya jumlah material yang cukup banyak di sekitar bulan. Jadi saya pikir ini merupakan proses jangka panjang,” ujar Anderssen, “tapi kita tidak boleh beranggapan bahwa ini merupakan hal yang tidak mungkin.”

Daftar Pustaka

2 comments:

Sepatu Kulit Bandung said...

wahh trimakasih atas infonya..
sangat bermanfaat

Dhanan Sarwo Utomo said...

Terima kasih supportnya

ShareThis