Sunday, May 4, 2008

Teknologi Lampu Murah dari Alumunium Foil

Sebentar lagi kita akan dapat menemukan lampu yang tipis, nyalanya terang dan harganya murah dijual di pasaran.

Saat ini, para peneliti dari universitas Illinois telah berhasil mengembangkan lampu murah yang terbuat dari alumunium foil. Lampu ini jauh lebih ringan, lebih terang dan lebih efisien jika dibandingkan dengan lampu bolam atau lampu neon yang kini beredar di pasaran.

Menurut Gary Eden, sang pemimpin riset, mereka akan berusaha untuk menekan harga lampu ciptaan mereka seminimal mungkin. Teknologi yang berharga tinggi memang biasany lebih sempurna namun, belum tentu dapat dinikmati oleh banyak orang. Pengembangan lampu yang berharga murah ini, tentunya akan dapat membantu jutaan rakyat miskin di seluruh dunia.

Gary Eden dan anggota timnya, adalah salah satu dari sekian banyak peneliti yang sedang berusaha untuk mengembangkan alat penerangan yang lebih efisien, tahan lama dan bebas merkuri.

Terangnya pancaran cahaya dari lampu ciptaan Thomas Edison telah berhasil membuat teknologi ini bertahan selama lebih dari seratus tahun. Sayangnya, lampu karya Edison tidak hemat energi. Lampu generasi selanjutnya, yang sering disebut neon, memang lebih hemat energi. Tetapi, lampu ini mengandung merkuri yang berbahaya bagi mahluk hidup dan lingkungan. Lampu karya Gary Eden dan kawan-kawannya merupakan alternatif baru bagi
sumber cahaya yang hemat energi dan ramah lingkungan.

Lampu karya Gary Eden terbuat dari alumunium foil yang direndam dalam asam akbatnya, permukaan lampu ini dipenuhi oleh celah-celah kecil. Reaksi dengan asam, juga mengubah alumunium menjadi oksida alumunium yang disebut sapphire. Sapphire merupakan struktur yang kokoh sehingga dapat diberi beda tegangan tanpa merusak lampu. celah-celah yang terdapat pada lampu kemudian diisi dengan gas lalu, seluruh permukaan lampu dilapisi dengan kaca.

Ketebalan lampu ini kurang dari satu milimeter. Alumunium juga merupakan bahan yang elestis, sehingga bentuk lampu ini dapat disesuaikan dengan bentuk permukaan tempatnya dipasang.

Lampu yang fleksibel ini bukan hanya berpotensi untuk dipergunakan di perumahan dan gedung perkantoran tetapi juga, dimanfaatkan dalam dunia pengobatan. Para dokter dari Massachusetts General Hospital telah menyatakan ketertarikan mereka untuk memanfaatkan lampu ini untuk mengobati psoriasis. Psoriasis adalah salah satu jenis kangker kulit yang kini diderita lebih dari 5% penduduk dunia. Walaupun penyakit ini belum ditemukan obatnya, penyinaran ultra violet dengan panjang gelombang tertentu dapat meringankan dampak penyakit ini. Saat ini, biaya pengobatan psoriasis terbilang mahal. Dalam satu minggu, para penderita harus berkonsultasi dan menjalani terapi sebanyak beberapa kali.

Dengan penemuan lampu alumunium ini, diharapkan biaya yang harus dikeluarkan penderita psoriasis dapat ditekan. Lampu dari alumunium foil dapat diatur panjang gelombangnya, dibungkus secara higenis, dan dijual di apotek. Penderita psoriasis dapat memperoleh lampu ini dengan mudah dan menempelkannya pada bagian kulit yang terjangkit dengan menggunakan plester. Dengan demikian, penderita psoriasis tidak perlu lagi berkunjung ke rumah sakit.

Saat ini, Lighting Efficiency Coallition (koalisi bagi sumber cahaya yang efisien), tengah berusaha mendekati perusahaan-perusahaan lampu seperti Philips Lighting, dan para pejabat di pemerintahan Amerika. Mereka berharap agar pada tahun 2016, seluruh lampu konvensional yang beredar telah diganti dengan produk yang hemat energi dan ramah lingkungan. Lampu Alumunium foil ciptaan Gary Eden dan kawan-kawan merupakan salah satu teknologi yang tengah mereka usulkan.

1 comment:

masgugum said...

Permisi Moderator, mau beritahu info

Teman-teman penderita Psoriasis, aku mau kasih tau, psoriasis itu

penyebabnya karena sistem imun di dalam tubuh bekerja terlalu aktif hingga

membuat kerjanya error, jadinya imun yang terbentuk menyerang kulit.

penyakit ini tergolong auto imun, cara paling efektif adalah dengan

menenangkan sistem imun agar bekerja normal kembali. caranya? sekarang

telah muncul yang namanya transfer factor. info lebih lanjut baca di

http://molekulajaibtf.co.nr

salam,

gumilang

ShareThis