Showing posts with label psikologi. Show all posts
Showing posts with label psikologi. Show all posts

Tuesday, March 21, 2017

Bahkan Hewanpun Mampu Menilai Kepribadian Manusia

Jadilah orang yang baik, karena bahkan hewanpun mampu menilai Anda.  Baik anjing maupun monyet peliharaan menunjukkan preferensi terhadap orang yang suka membantu orang lain, dan hasil ini mungkin juga menerangkan asal muasal moral-moral dasar manusia.

Monyet Capuchin sedang berbagi makanan
gambar asli oleh Frans de Waal
Lisensi Creative Commons
Pada usia satu tahun, bayi manusia sudah mulai dapat menilai orang lain berdasarkan bagaimana orang tersebut berinteraksi (Hamlin, et.al., 2007). Hal ini memperkuat anggapan bahwa bayi sudah memiliki nilai-nilai moral dasar sebelum mereka mulai diajari bagaimana untuk berperilaku. Tim dari Kyoto University, Jepang, yang dipimpin oleh ahli psikologi komparatif James Anderson, tertarik untuk meneliti apakah spesies lain juga melakukan proses evaluasi yang sama dengan manusia.

Mereka memulainya dengan meneliti apakah monyet capuchin memiliki preferensi terhadap orang yang suka membantu orang lain atau tidak. Monyet-monyet ini diajak untuk menyaksikan seorang aktor (aktor A) yang bertingkah seolah-olah tengah kesulitan membuka sebuah wadah yang berisi mainan. 

Aktor A kemudian pura-pura meminta bantuan kepada aktor lain (Aktor B) untuk membuka wadah tersebut. Aktor B bisa memutuskan untuk membantu aktor A maupun tidak. Kedua aktor kemudian menawari monyet-monyet ini makanan. Monyet-monyet ini bebas memilih makanan yang ditawarkan oleh aktor mana yang akan mereka terima. Jika aktor B memutuskan untuk membantu aktor A, maka monyet-monyet ini tidak memiliki preferensi antara aktor A dan aktor B. Akan tetapi ketika aktor B tidak membantu aktor A, maka monyet-monyet ini lebih memilih untuk mengambil makanan dari aktor A. Anjingpun menunjukkan perilaku yang sama.

Tim ini juga meneliti penilaian monyet-monyet capuchin terhadap keadilan. Dalam tes ini aktor A meminta bola dari aktor B. Aktor B kemudian menyerahkan tiga buah bola kepada aktor A. Akan tetapi, ketika aktor B meminta kembali bolanya, aktor A dapat mengembalikan seluruhnya, atau tidak mengembalikannya sama sekali. Kedua aktor ini kemudian kembali menawarkan monyet-monyet ini makanan.

Monyet-monyet ini tidak memiliki preferensi ketika aktor A mengembalikan seluruh bola yang ia terima. Akan tetapi mereka lebih memilih aktor B ketika aktor A tidak mau mengembalikan bola yang diterimanya (Anderson et.al., 2017).

Berdasarkan hasil-hasil ini, tim menyimpulkan bahwa monyet dan anjing juga melakukan evaluasi sosial sebagaimana halnya bayi manusia. Oleh karenanya, jika seseorang melakukan tindakan anti sosial ia cenderung akan menerima reaksi emosional.

Hubungan jangka panjang yang dimiliki oleh anjing dengan manusia memungkinkan mereka untuk menjadi sangat sensisitif terhadap perilaku kita. Tidak hanya perilaku kita terhadap mereka, akan tetapi juga perilaku kita terhadap manusia lain. Akan tetapi tim peneliti lain dari  Emory University, Georgia, menyatakan bahwa monyet-monyet di alam liar juga nampaknya menggunakan proses yang sama untuk memutuskan mana anggota kelompoknya yang dapat diajak bekerja sama. Jika binatang-binatang ini dapat mendeteksi tendensi untuk bekerja sama antar aktor manusia, maka mereka juga mampu menilai perilaku sesama primata. Sebaliknya, kemampuan manusia untuk membentuk moralitas mungkin juga terjadi dengan cara yang serupa. Menurut Anderson, pada manusia mungkin terdapat sensitifitas dasar terhadap perilaku antisosial, sensitifitas ini kemudian dilengkapi melalui interaksi dalam budaya tertentu dan ajaran moral dari orang lain.

Kapasitas untuk menilai orang lain berfungsi menstabilkan kelompok sosial yang kompleks, karena dengan kemampuan ini orang dapat mengesampingkan anggota kelompok yang tidak bermanfaat atau mau menang sendiri. Hal ini dapat mencegah perilaku buruk dan interaksi sosial yang merusak. Pendapat ini dikemukakan oleh Kiley Hamlin dari University of British Columbia, Canada.

Kelompok peneliti yang dipimpin oleh De Waal juga melihat adanya hubungan kuat antara moralitas dan reputasi (De Waal & Luttrell, 1988). Menurutnya, perilaku bermoral yang ditunjukkan oleh manusia merupakan upaya untuk membangun reputasi. Orang tidak akan berusaha untuk menjadi baik jika tidak memperoleh perhatian dari orang lain. Kita memang tidak bisa menyebut monyet sebagai mahluk yang bermoral, akan tetapi dalam kehidupan sosial mereka memiliki perilaku yang amat penting.

Daftar Pustaka

  1. Anderson, J. R., Bucher, B., Chijiiwa, H., Kuroshima, H., Takimoto, A., & Fujita, K. (2017). Third-party social evaluations of humans by monkeys and dogs. Neuroscience & Biobehavioral Reviews.
  2. De Waal, F. B., & Luttrell, L. M. (1988). Mechanisms of social reciprocity in three primate species: symmetrical relationship characteristics or cognition?. Ethology and Sociobiology, 9(2-4), 101-118.
  3. Hamlin, J. K., Wynn, K., & Bloom, P. (2007). Social evaluation by preverbal infants. Nature, 450(7169), 557-559.

Friday, March 3, 2017

Perilaku Warisan Nenek Moyang Pada Manusia Modern

Semaju apapun budaya dan teknologi yang telah kita capai saat ini, naluri-naluri  nenek moyang tetap bertahan. 

Evolusi struktur masyarakat dan posisi individu di dalamnya
diambil dari Ronfeldt (1996).
Kita kini hidup di zaman dengan kondisi yang sangat berbeda dengan zaman ketika manusia tengah berevolusi. Ketika itu bertahan hidup amat sulit bagi manusia manapun. Kondisi yang keras mendorong munculnya kerja sama antar manusia dalam kelompok-kelompok kecil, yang sering hanya terdiri atas sanak saudara, dan mengutamakan ikatan sosial yang sangat kuat.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, perkembangan sistem informasi yang sangat luas, ditambah dengan membanjirnya informasi mengenai barang komersial dengan harga terjangkau, telah memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan sangat banyak orang semasa hidup kita. Akan tetapi interaksi-interaksi tersebut umumnya hanya sepintas lalu. Walaupun pemikiran rasional dan terdidik kita mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan, akan tetapi insting dasar kita ternyata berevolusi dengan jauh lebih lambat. Secara biologis, tidak ada perbedaan antara otak manusia yang mendarat di bulan dengan otak manusia pemburu mammoths pada zaman es. Dan naluri, emosi, dan sikap-sikap ini (yang bagi nenek moyang kita penting untuk bertahan hidup dan berkembang biak ketika mereka hidup di padang rumput Afrika) masih sangat mempengaruhi cara kita mengambil keputusan dan bertindak.

Bagi manusia purba, diterima dalam sebuah suku sangat penting demi keberlangsungan hidup. Hal ini dikarenakan interaksi dengan orang asing amat jarang terjadi. Oleh karenanya, setiap interaksi sosial memiliki konsekuensi yang penting bagi peran seseorang dalam suatu suku, struktur kesukuan ini menghasilkan suatu hirarki sosial yang amat kaku. Penghormatan bagi hirarki semacam itu, yang dapat dicerminkan dengan kepatuhan terhadap tokoh penguasa / pemimpin, didemonstrasikan dalam suatu percobaan yang disebut Stanley Milgram' experiment. Ketika peserta diminta untuk menyetrum seseorang, maka 65% akan mematuhinya. Padahal, mereka telah diberi tahu dan memahami bahwa tegangan listrik yang diberikan (hingga 450 volt) akan terasa amat menyakitkan (Milgram, 1963). Para peneliti juga telah menunjukkan bahwa dalam suatu pemilihan kita cenderung memilih kandidat yang berbadan lebih tinggi dan lebih tampan. Hal ini dianggap merefleksikan dominasi pria yang secara fisik sehat dan kuat dalam sebuah suku (Murray & Schmitz , 2011; White et.al., 2013). Bahkan ada riset yang menunjukkan bahwa anak-anak mampu memprediksi pemenang pemilu hanya dengan melihat foto-foto para kandidat (Antonakis & Dalgas, 2009). Pemikiran-pemikiran ini semestinya sudah ditinggalkan, karena dalam dunia modern kesuksesan tidak lagi ditentukan dengan performa fisik.

Hirarki kesukuan juga mungkin mempengaruhi perasaan marah yang berlebihan atas perselisihan-perselisihan yang nampak sepele. Dalam sebuah suku, para individu (khususnya pria) perlu bertindak tegas untuk memperoleh akses terhadap makanan dan wanita. Kala ini, ketika seseorang berhadapan dengan orang yang nampak memaksakan kehendaknya, naluri agresif kita akan muncul hingga salah satu dapat dipinggirkan.

Suasana kesukuan juga menanamkan perilaku untuk membedakan-bedakan berdasarkan perbedaan imaginatif antara satu kelompok dengan kelompok lain, misalnya patriotisme dan xenophobia. Berbagai percobaan telah menunjukkan bahwa orang yang asing satu sama lain, jika dikelompok-kelompokkan, akan cenderung membentuk perilaku diskriminatif (Tajfel, 1970). Para ilmuwan berpendapat bahwa prasangka merupakan suatu naluri yang ditumbuhkan untuk melindungi suku dari orang luar yang dapat merugikan kelompok, dengan menyebarkan penyakit, mencuri makanan atau melakukan kekerasan (Cottrell & Neuberg, 2005). Contoh nyata saat ini misalnya, karena munculnya ketakutan akan membanjirnya imigran warga Kerajaan Inggris lebih memilih untuk meninggalkan Uni Eropa. Sentimen ini juga berperan penting dalam kemenangan Donald Trump sebagai presiden Amerika. Ini merupakan bukti-bukti bahwa naluri nenek moyang masih berperan besar dalam cara kita mengambil keputusan di zaman modern ini. Bisa saja perilaku ini juga turut mempengaruhi dinamika politik di Indonesia dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pemilihan Presiden 2019 nanti.  

Bagi mereka yang berada dalam tingkatan sosial yang lebih rendah, menyesuaikan diri dengan dengan pandangan kelompok yang sudah lama ada (turun temurun) sering merupakan strategi paling aman. Ketakutan akan dipermalukan, ditentang atau ditolak merupakan tendensi manusia lainnya yang berakar pada kebutuhan untuk diterima dalam sebuah suku. Sebuah eksperimen sosial klasik menunjukkan bahwa 35 persen mahasiswa memilih jawaban yang jelas-jelas salah ketika menebak panjang sebuah garis lurus. Jawaban ini diberikan karena mereka menuruti jawaban peserta eksperimen lain, yang sebenarnya merupakan anggota tim peneliti dan sengaja memberikan jawaban yang salah (Asch, 1951).  Naluri untuk ingin diterima secara sosial dapat menjelaskan mengapa banyak orang yang takut untuk berbicara di depan umum. Walaupun pada kenyataannya belum tentu kita akan bertemu lagi dengan orang yang mendengar pembicaraan kita, kita masih takut akan penolakan atau dipermalukan. Perilaku warisan nenek moyang kita ini telah dimanfaatkan oleh berbagai perusahaan untuk memasarkan produknya. Mereka memanfaatkan selebriti sebagai endorser agar produknya lebih laku. Selebriti, merupakan sosok-sosok yang paling bisa diterima oleh masyarakat. Karena konsumen ingin juga diterima sebagaimana halnya sang selebriti, maka mereka akan tertarik untuk membeli produk yang dipakai selebriti tersebut.

Di antara seluruh perilaku warisan tadi, sikap picik mungkin merupakan warisan yang paling nyata. Kita menanggapi bahaya yang nyata dan akan terjadi dalam waktu dekat dengan cepat, tetapi selalu meremehkan bahaya laten yang belum nyata dan belum terjadi. Misalnya, jauh lebih banyak orang yang mati akibat penyakit diabetes dibandingkan dengan tindak terorisme, jauh lebih banyak orang yang mati karena kangker dibandingkan karena dipatuk ular. Mengapa? karena tindakan terorisme dan gigitan ular dapat membunuh anda besok, sehingga anda akan amat berhati-hati. Kepicikan jugalah yang membuat orang amat sulit merespon pemanasan global, karena isu ini dampaknya sulit diukur dan membutuhkan waktu yang lama untuk terjadi.

Perilaku-perilaku nenek moyang ini merupakan bagian dari diri kita. Mempelajari kondisi lingkungan dan sosial masa lalu, dapat membantu kita untuk memahami jiwa masyarakat modern. Mempelajari perilaku-perilaku ini juga membantu kita untuk mengatasi dampak kekunoannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Daftar Pustaka

  1. Antonakis, J., & Dalgas, O. (2009). Predicting elections: Child's play!. Science, 323(5918), 1183-1183.
  2. Asch, S. E. (1951). Effects of group pressure upon the modification and distortion of judgments. Groups, leadership, and men. S, 222-236.
  3. Cottrell, C. A., & Neuberg, S. L. (2005). Different emotional reactions to different groups: a sociofunctional threat-based approach to" prejudice". Journal of personality and social psychology, 88(5), 770.
  4. Milgram, S. (1963). Behavioral Study of obedience. The Journal of abnormal and social psychology, 67(4), 371.
  5. Murray, G. R., & Schmitz, J. D. (2011). Caveman politics: Evolutionary leadership preferences and physical stature. Social Science Quarterly, 92(5), 1215-1235.
  6. Ronfeldt, D. (1996). Tribes, institutions, markets, networks: A framework about societal evolution.
  7. Tajfel, H. (1970). Experiments in intergroup discrimination. Scientific American, 223(5), 96-102.
  8. White, A. E., Kenrick, D. T. & Neuberg, S. L. 2013. ‘Beauty at the Ballot Box: Disease Threats Predict Preferences for Physically Attractive Leaders’, Psychological Science, 24, 2429–36.

Sunday, May 31, 2015

Strategi Belajar Apa yang Secara Ilmiah Teruji Berhasil?; dan Strategi Apa yang Hanya Membuang Waktu?

centered-learning-education-project. 
Author:Roman Woronowycz.
Lisensi gambar: Public Domain
Artikel ini mendiskusikan perbandingan manfaat antar  berbagai strategi belajar berdasarkan bukti-bukti empiris yang ada. Mengetahui manfaat dan kelemahan berbagai strategi belajar amat penting bagi para pendidik, orang tua dan siswa untuk membantu siswa menyerap pengetahuan dengan lebih cepat, memperoleh pemahaman yang kemprehensif dan mempertahankannya dalam ingatan selama bertahun-tahun, bukan saat ujian semata.

Selama lebih dari seratus tahun berbagai strategi belajar, seperti rereading (membaca berulang-ulang), summarizing (meringkas), dan self-testing (latihan soal), telah didesain dan dievaluasi manfaatnya. Beberapa diantara strategi ini terbukti meningatkan nilai akademis siswa, sementara yang lain ternyata tidak efisien dan menghabiskan waktu. Sayangnya hanya sedikit hasil penelitian ini yang pada akhirnya dimanfaatkan dalam proses belajar dan mengajar di kelas. Secara global, mayoritas guru tidak mengetahu strategi belajar yang terbukti manfaatnya secara eksperimental sebaliknya, para siswa tidak dilatih untuk memanfaatkannya. Data empiris bahkan menunjukkan bahwa, secara gobal strategi-strategi belajar yang tidak efektif adalah strategi populer di kalangan siswa. Yang lebih berbahaya, hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu dari strategi populer ini justru dapat menurunkan prestasi belajar.

Kemungkinan, pola global ini salah satunya disebabkan oleh banyaknya jumlah penelitian pada bidang ini. Akibatnya, guru dan siswa kesulitan mengidentifikasi hasil penelitian mana yang menyampaikan strategi belajar paling efektif dan praktis. Untuk menjawab tantangan ini, para peneliti telah mengikhtisarkan dan membandingkan hasil dari sekitar 700 penelitian mengenai strategi belajar.

Terdapat beberapa kriteria yang dipergunakan para peneliti untuk menilai kegunaan suatu strategi. Pertama, strategi belajar dianggap unggul jika dapat dipergunakan dalam berbagai kondisi belajar, baik untuk belajar mandiri maupun berkelompok. Kedua, strategi yang unggul harus dapat dimanfaatkan oleh berbagai kalangan dengan latar belakang usia dan pengetahuan yang bervariasi. Ketiga, manfaat-manfaat strategi belajar ini harus telah teruji dalam eksperimen di kelas atau di dunia nyata. Keempat, strategi belajar dianggap unggul jika dapat dipergunakan untuk mempelajari berbagai macam subjek dan dapat menunjukkan peningkatan skor ketika diuji dengan tes yang valid untuk subjek tersebut (misalnya TOEFL atau IELTS untuk mata pelajaran bahasa inggris). Kelima, manfaat yang diperoleh dari sebuah strategi belajar harus dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Dengan kriteria-kriteria ini, diidentifikasi dua strategi belajar yang dianggap unggul. Manfat kedua strategi ini telah teruji secara kokoh (robust) dan relevan dalam berbagai situasi. Selain kedua strategi tersebut, diidentifikasi pula tiga strategi yang dapat dianjurkan, bilamana kedua strategi unggul tadi tidak memungkinkan. Diidentifikasi pula tiga strategi populer yang perlu dihindari oleh siswa. Ketiga strategi ini tidak dianjurkan karena manfaatnya hanya berlaku pada kondisi-kondisi tertentu, atau karena tidak terdapat cukup bukti akan peningkatan prestasi akademis yang diperoleh dengan strategi-strategi ini. Para peneliti juga berharap adanya upaya-upaya lebih lanjut untuk menguji strategi-strategi lain yang belum mereka cakup dalam perbandingan ini. Mereka juga berharap agar guru dan siswa dapat menghindari penggunaan strategi-strategi yang belum teruji secara ilmiah.

Strategi-strategi belajar yang unggul

Self-testing : latihan soal

Terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan dalam self-testing misalnya, mengerjakan latihan soal dari buku pelajaran. Tehnik lain misalnya membuat sendiri pertanyaan dalam bentuk kartu. Kartu-kartu ini kemudian diacak dan siswa berusaha menjawab pertanyaan pada kartu yang terambil. Metode ini sebenarnya kurang digemari oleh para siswa, akan tetapi ratusan eksperimen menunjukkan bahwa metode ini dapat meningkatkan jumlah materi yang dikuasai dan lamanya suatu materi bertahan dalam memori.

Dalam salah satu eksperimen, sejumlah siswa diberi serangkaian padanan kata Swahili-Inggirs. Kelompok pertama menghafal padanan kata ini dengan membaca berulang-ulang sementara, kelompok kedua menghafalkan dengan melakukan self testing. Hasil eksperimen ini menunjukkan bahwa kelompok kedua dapat mengingat 80% dari padanan kata yang diberikan, sementara kelompok pertama hanya dapat mengingat 36%. Salah satu teori yang telah diterima menyatakan bahwa self testing dapat mengaktivasi long term memory sehingga di dalam mental terbentuk banyak lajur untuk mengakses informasi yang dibutuhkan. Strategi ini lebih efektif apabila sering dilakukan dan ketika partisipan menerima feedback jawaban yang benar.

Eksperimen menunjukkan bahwa manfaat self testing muncul pada berbagai kelompok usia, semenjak pra sekolah, mahasiswa, hingga paruh baya. Self testing juga bermanfaat untuk menguasai berbagai informasi faktual, dari kosa kata bahasa asing hingga anatomi tumbuhan. Self testing bahkan dapat meningkatkan memori pada partisipan yang menderita Alzheimer.

Tehnik ini juga tetap bermanfaat walaupun format dalam latihan berbeda dengan format ujian sebenarnya. Misalnya, dalam latihan dipergunakan pilihan berganda akan tetapi format ujiannya adalah essay. Self testing dapat dilakukan sendiri, tanpa keahlian khusus dan dengan berbagai media, misalnya secara tertulis, menggunakan kartu, tebak-tebakan (quiz) atau menggunakan komputer. Terdapat juga tehnik khusus untuk membantu melakukan self testing yang disebut Cornell note taking system. Secara umum, dampak yang diperoleh dari self testing dapat bertahan dalam hitungan bulan bahkan tahun.

Ilustrasi, bagaimana membuat catatan dengan Cornell Note taking system, dan mempergunakan catatan ini untuk melakukan self testing 

Distributed practice : Mencicil     

Sistem kebut semalam yaitu berupaya menyerap seluruh materi sehari sebelum ujian merupakan strategi populer dikalangan siswa dan mahasiswa. Strategi ini tdak efektif karena besarnya beban kerja otak. Eksperimen klasik menunjukkan bahwa belajar dengan mencicil dapat memberikan hasil yang lebih memuaskan. Dalam eksperimen ini sejumlah siswa diberi daftar padanan kata Inggris-Spanyol yang dibagi dalam enam sub bab. Kelompok siswa pertama menghafalkan keenam sub bab ini selama sehari penuh, kelompok kedua menghafal dalam 6 sesi (1 sub bab tiap sesi) dengan jarak antar sesi satu hari, kelompok ketiga juga menghafal dalam 6 sesi, akan tetapi jarak antar sesinya adalah 30 hari. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan paling tinggi diperoleh para dari siswa kelompok ketiga. Perbandingan antar 254 penelitian dengan lebih dari 14000 partisipan menunjukkan bahwa partisipan yang belajar dengan mencicil secara rata-rata dapat mengingat 47% materi yang diberikan, sementara yang tidak hanya mampu mengingat 37%.

Berbagai eksperimen menunjukkan bahwa manfaat strategi ini dapat dirasakan oleh anak-anak (semenjak usia 3 tahun), mahasiswa, bahkan kelompok usia lanjut. Strategi ini juga dapat dipergunakan untuk menguasai berbagai materi seperti kosa kata, makna kata, matematika, keterampilan musik bahkan pembedahan.

Untuk menerapkan strategi ini siswa perlu membagi sendiri topik-topik dalam buku teks, agar beban pada setiap sesi kira-kira sama. Interval antar sesi belajar akan sangat menentukan keberhasilan strategi ini. Satu eksperimen menunjukkan bahwa performa tertinggi strategi ini diperoleh ketika interval antar sesi bernilai 10-20% dari selang waktu suatu materi perlu diingat. Misalnya jika kita akan ujian 5 hari lagi, maka jarak antar sesi belajar yang tepat adalah 0,5 - 1 hari. Beberapa pakar berpendapat bahwa selang waktu yang panjang ideal untuk mempertahankan konsep-konsep dasar yang mendasari konsep-konsep selanjutnya.

Strategi-strategi belajar yang dapat disarankan

Manfaat strategi-strategi belajar berikut ini belum diuji secara luas, terutama dengan menggunakan eksperimen di dunia nyata. Akan tetapi, hasil studi-studi terbatas menunjukkan bahwa strategi-strategi ini berpotensi meningkatkan hasil belajar siswa.

Elaborative interrogation

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mengeksplorasi penyebab mengapa suatu hal terjadi (why question) dapat memfasilitasi proses belajar. Dalam strategi ini partisipan berupaya mengeksplorasi penjelasan bagi setiap fakta yang ia temukan. Misalnya mengapa suatu hal terjadi, atau mengapa suatu kejadian masuk akal. Pertanyaan ini dijawab berdasarkan pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki. Jawaban pertanyaan elaborative ini tidak harus benar secara empirik, yang penting siswa dapat menghubungkan pengetahuan sebelumnya untuk menyerap fakta baru.

Ilustrasi elaborative interrogation, diadaptasi dari McDaniel & Donnelly (1996). Sumber gambar : http://pixabay.com/en/job-interview-colleagues-business-437026/; Author: Ibrahim Adabara ; Lisensi Gambar: CC0 Public Domain 

Satu eksperimen menunjukkan bahwa kelompok yang menggunakan strategi ini dapat mengingat 72% fakta yang diberikan, sementara kelompok yang sekedar membaca hanya mampu mengingat 37%. Strategi ini dinilai cukup praktis, hanya membutuhkan sedikit latihan dan waktu yang singkat. Dalam salah satu eksperimen, kelompok yang menggunakan strategi ini hanya membutuhkan waktu 32 menit sementara kelompok yang melakukan rereading membutuhkan waktu 28 menit.

Sayangnya, strategi ini hanya dapat dilakukan ketika partisipan telah memiliki pengetahuan mengenai topik yang dibahas. Manfaat strategi ini meningkat sebanding dengan jumlah informasi terdahulu yang telah dimiliki. Misalnya, mahasiswa Jerman akan lebih mudah menerapkan strategi ini untuk mempelajari fakta-fakta mengenai berbagai wilayah di Jerman, dibandingkan ketika membahas fakta-fakta serupa di Kanada. Ini dikarenakan pengetahuan sebelumnya amat penting bagi partisipan untuk menghasilkan penjelasan logis mengenai kebenaran suatu fakta.

Manfaat strategi ini muncul pada berbagai kelompok usia, dari mulai siswa kelas empat sampai dengan mahasiswa tingkat akhir. Walaupun strategi ini dapat meningkatkan kemampuan mengingat, belum teruji apakah partisipan dapat memperoleh pemahaman yang komprehensif. Indikasi mengenai berapa lama suatu fakta dapat diingat juga belum jelas.

Self-explanation   

Pada strategi ini siswa dituntut untuk menjelaskan sendiri apa yang telah dipelajarinya. Menjawab pertanyaan mengenai informasi apa yang telah ia peroleh, dan menjelaskan hubungan antara informasi baru ini dengan informasi sebelumnya. Strategi ini juga diindikasikan dapat membantu siswa untuk menyerap informasi baru dan memadukannya dengan pengetahuan sebelumnya.

Ilustrasi proses self explanation, diadaptasi dari Hodds et.al (2014). Sumber gambar: http://www.wpclipart.com/education/teacher/teaching_large.png.html, lisensi gambar: Public Domain

Manfaat dari strategi ini diamati pada partisipan dengan berbagai usia, dari siswa taman kanak-kanak hingga mahasiswa. Strategi ini dapat meningkatkan kemampuan memecahkan permasalahan matematika dan logika, memahami teks naratif dan bermain catur. Pada anak usia dini, strategi ini dapat membantu mempelajari bilangan atau pola. Selain dapat meningkatkan memori, strategi ini juga dapat membentuk pemahaman yang komprehensif dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Sayangnya belum banyak penelitian yang mengukur berapa lama pemahaman partisipan bertahan dalam memori, dan apa dampak pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya terhadap hasil strategi ini.

Belum jelas apakah strategi ini praktis untuk dipergunakan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa partisipan dapat menggunakan strategi ini dengan sedikit latihan, akan tetapi penelitian lain menunjukkan bahwa strategi ini memakan banyak waktu. Beberapa penelitian juga mengindikasikan bahwa tanpa instrusksi yang tepat partisipan cenderung menceritakan ulang informasi yang diperoleh, bukan berupaya menjelaskannya.

Interleaved practice

Dalam belajar, siswa cenderung menghafalkan tipe permasalahan satu per satu. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa mengkombinasikan berbagai informasi dan tipe permasalahan sekaligus, berdampak positif terhadap hasil belajar. Dalam salah satu eksperimen, siswa diminta untuk mempelajari proses menghitung volume dari empat bangun ruang berbeda. Satu kelompok diminta untuk mempelajari proses perhitungan volume tiap bangun secara terpisah. Pada kelompok kedua keempat problem ini dipadukan. Ketika diuji seminggu kemudian, kelompok kedua dapat menyelesaikan problem yang diberikan 43% lebih akurat. Interleaved practice mendorong siswa untuk menyeleksi metode yang sesuai dan membandingkan berbagai tipe problem.

Untuk melaksanakan strategi ini siswa biasanya diperkenalkan dan dilatih terlebih dahulu pada salah satu problem. Begitu problem kedua diperkenalkan, pembahasan problem ini dipadukan dengan problem yang sebelumnya telah dipelajari

Ilustrasi Interleaved Practice, diadaptasi dari Rohrer et.al (2014). Sumber gambar: http://pixabay.com/en/moe-woman-girl-manga-anime-cartoon-595959/; Author: Ryo Taka; Lisensi Gambar: CC0 Public Domain 
Strategi ini cocok untuk mempelajari tipe-tipe permasalahan yang mirip, sehingga mungkin untuk melakukan perbandingan. Sebagian ahli berpendapat bahwa manfaat strategi ini hanya dapat dirasakan oleh mereka yang memang memiliki kemampuan berfikir yang baik. Hasil eksperimen yang diperoleh juga bervariasi bergantung pada materi yang dipergunakan. Strategi ini berdampak positif untuk mempelajari aljabar dan keterampilan praktis seperti dalam dunia medis. Akan tetapi, belum terbukti efektif untuk mempelajari kosa kata atau bahasa asing. Sayangnya lagi, memadukan pembahasan topik baru dengan bahasan sebelumnya sering membutuhkan waktu lebih lama.
      

Strategi-strategi belajar yang perlu dihindari

Strategi-strategi belajar berikut ini perlu dihindari oleh siswa karena tidak efektif, tidak efisien, hanya bermanfaat pada kasus-kasus tertentu dan tidak dapat mempertahankan informasi dalam jangka waktu yang lama.

Highlighting dan Summarizing : Menggaris bawahi dan meringkas

Menggaris bawahi sering dipergunakan untuk meringkas materi, dengan harapan informasi menjadi lebih mudah diserap. Strategi ini sederhana dan mudah dilakukan, akan tetapi hasil eksperimen pada anggota angkatan udara Amerika, anak-anak dan mahasiswa menunjukkan bahwa strategi ini tidak efektif. Beberapa hasil studi malah menunjukkan bahwa strategi ini dapat menurunkan capaian belajar. Tidak efektifnya strategi ini tidak bergantung pada materi yang dipelajari maupun panjang pendeknya teks. Stretegi ini diduga mendorong siswa untuk menghafalkan setiap poin secara individual tanpa berupaya membuat relasi antar informasi. Hal ini menyebabkan pemahaman materi hanya tersimpan sebentar dalam memori.

Walaupun demikian, pada awal proses belajar strategi ini dapat dipergunakan untuk menandai topik-topik penting pada buku teks. Bagian-bagian ini kemudian dapat dikonversi dengan menggunakan Cornell note taking system, yang telah disinggung sebelumnya. Catatan ini selanjutnya dapat dipergunakan untuk melakukan self testing yang terbukti lebih bermanfaat.

Strategi lain yang serupa dengan highlighting adalah summarizing. Perbedaannya dalam summarizing siswa menuliskan kembali poin-poin penting dari buku teks. Berbeda dengan Cornell note taking system, tidak terdapat struktur bagaimana suatu perlu diringkas. Banyaknya variasi ini membuat mamfaat strategi ini sulit diuji lewat eksperimen agar dapat dibuktikan.

Rereading : Membaca berulang-ulang

Di dunia, ini merupakan strategi yang paling populer dikalangan mahasiswa (+/- 84%). Strategi ini dianggap setidaknya mampu membantu mengisi otak, tidak membutuhkan waktu yang lama dan tidak membutuhkan keterampilan apa-apa. Sayangnya, jumlah penelitian yang mengeksplorasi manfaat rereading sangat terbatas. Juga belum terdapat cukup bukti bahwa rereading dapat membantu membentuk pemahaman yang komprehensif. Beberapa studi mengindikasikan bahwa pertambahan informasi yang diserap memori paling besar terjadi ketika seseorang membaca materi untuk kedua kalinya, sementara dampak pengulangan selanjutnya sangat kecil.

Karena dalam berbagai eksperimen performa strategi ini kalah dengan strategi-strategi lain, maka sebaiknya strategi ini dihindari. Kalaupun ingin melakukannya, disarankan tidak membaca topik yang sama lebih dari dua kali.

Pelajaran yang dipetik

Rangkuman dari para peneliti ini menunjukkan bahwa selain materi yang perlu diajarkan, pemilihan strategi belajar yang tepat juga perlu diperhatikan dalam pendidikan. Mengetahui strategi yang efektif dapat membantu para pendidik, orang tua dan siswa untuk merencanakan dan melaksanakan proses belajar. Dengan strategi yang tepat siswa dapat memperoleh pemahaman yang komprehensif dan mampu mempertahankannya lebih lama dalam memori. Selain meningkatkan prestasi akademis, hal ini dapat membentuk kecakapan dan keterampilan lulusan baik dalam dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari.

Rangkuman ini juga mengindikasikan celah-celah yang masih perlu dikaji oleh para pakar pendidikan khususnya di Indonesia. Pertama apakah hasil-hasil studi dari negara barat ini sensitif terhadap kondisi kultural? Kedua, pada tingkat pendidikan apa setiap strategi paling cocok untuk mulai diterapkan? Ketiga, strategi apa yang paling cocok untuk diterapkan pada setiap mata pelajaran? Keempat dan yang paling menarik bagi saya pribadi adalah apa efek dari kombinasi beberapa strategi. Misalnya, apakah self testing dilakukan dengan distributed practice dampaknya lebih besar dibandingkan dengan self testing yang dilakukan sehari sebelum ujian. Contoh lain, apakah terlebih dahulu melakukan highlighting pada buku teks dapat meningkatkan kualitas Cornell notes yang dibuat siswa?

Saya berharap menyebarnya informasi ini dan terisinya celah-celah di atas dapat membantu mewujudkan generasi penerus bangsa yang lebih cemerlang, cakap dan terampil.
          

Daftar Pustaka

  • Carpenter, S. K., Cepeda, N. J., Rohrer, D., Kang, S. H., & Pashler, H. (2012). Using spacing to enhance diverse forms of learning: Review of recent research and implications for instruction. Educational Psychology Review, 24(3), 369-378.
  • Dunlosky, John , Rawson, Katherine A., Marsh, Elizabeth J., Nathan, Mitchell J. , & Willingham, Daniel T. (2013). What Works, What Doesn't. Scientific American Mind, 47-53.
  • Hodds, M., Alcock, L., & Inglis, M. (2014). Self-explanation training improves proof comprehension. Journal for Research in Mathematics Education, 45(1), 62-101.
  • McDaniel, M. A., & Donnelly, C. M. (1996). Learning with analogy and elaborative interrogation. Journal of Educational Psychology, 88(3), 508.
  • Rawson, K. A., & Dunlosky, J. (2012). When is practice testing most effective for improving the durability and efficiency of student learning?. Educational Psychology Review, 24(3), 419-435.
  • Roediger, Putnam & Smith (2011) Ten Benefits of Testing and Their Applications to Educational Practice. Psychology of Learning and Motivation, Vol.55: Cognition in Education.
  • Rohrer (2012) Interleaving Helps Students Distinguish among Similar Concepts. Educational Psychology Review, Vol. 24, No. 3, pages 355–367
  • Rohrer, D., Dedrick, R. F., & Burgess, K. (2014). The benefit of interleaved mathematics practice is not limited to superficially similar kinds of problems. Psychonomic bulletin & review, 21(5), 1323-1330            

Saturday, May 23, 2015

Bagaimana Cara Meningkatkan Kemampuan Berfikir Otak?

Penelitian-penelitian paling mutakhir mengisyaratkan bahwa beberapa jenis latihan dapat membuat anda menjadi lebih pandai.

Sumber gambar:
http://pixabay.com/en/brain-mind-mindset-mindfulness-744180/
Creator: johnhain
Lisensi gambar CC0 Public Domain  
Jika anda ingin memperkuat otot perut, maka anda dapat melakukan sit-up. Untuk memperindah tubuh bagian atas maka anda dapat melakukan push up. Sayangnya hanya sedikit pengetahuan yang kita miliki mengenai cara untuk melatih otot-otot intelektual, atau untuk meningkatkan kemampuan akademik putera puteri kita. Latihan yang dapat memperpanjang ingatan, meningkatkan atensi dan mempertajam intelegensia tentu dapat meningkatkan kesempatan bagi anak-anak untuk memperoleh kehidupan yang nyaman. Hal ini juga tentunya amat bermanfaat bagi orang dewasa.

Kebanyakan orang berprasangka bahwa sekeras apapun upaya yang dilakukan tidak akan dapat membuat kita semakin cerdas. Subjek sebuah penelitian laboratorium yang dilakukan oleh John Jonides dan rekan-rekannya di Jonideslab Michigan menunjukkan reaksi yang berbeda. Mereka menunjukkan peningkatan IQ setelah melakukan pelatihan untuk otak selama tiga minggu. Peningkatan IQ ini cukup signifikan sehingga setidaknya sebagian partisipan merasakan dampaknya pada kegiatan mereka sehari-hari misalnya, dalam hal kemampuan bermain catur dan kemampuan dalam membaca not balok ketika bermain piano.

Bagaimana hal ini mungkin terjadi? Para peneliti selama ini meyakini bahwa fluid intelligence, yang merepresentasikan kemampuan manusia untuk menyelesaikan tugas baru (tanpa memiliki pengalaman sebelumnya), merupakan atribut yang tidak dapat ditingkatkan, kemampuan ini diwariskan pada saat manusia dilahirkan. Pada kenyataannya, fluid intelligence sekitar 50% - 80% memang dapat diwariskan, seperti layaknya tinggi badan. Akan tetapi kecerdasan ini masih dapat diasah. Sebagaimana nutrisi yang dapat mempengaruhi tinggi badan, berbagai variabel lingkungan dapat mempengaruhi cemerlang atau tidaknya pikiran seseorang. Sebagai contoh, Flynn effect. Efek ini menunjukkan bahwa walaupun komposisi genetis dalam suatu populasi cenderung stabil, skor intelegensi misalnya SAT terus meningkat selama 65 tahun terakhir. Hal ini bermakna bahwa terdapat faktor lain yang mempengaruhi peningkatan skor intelegensi ini.

Karena fluid intelligence berdampak besar terhadap prestasi akademis, karir dan kesuksesan, para peneliti telah lama mencari jalan untuk meningkatkan atribut ini. Beberapa upaya yang telah dilakukan misalnya dengan mendesain berbagai strategi pengajaran dan belajar, serta strategi pengerjaan ujian. Sayangnya kebanyakan upaya ini gagal atau setidaknya tidak terlalu berhasil. Para peneliti di JonidesLab berupaya untuk mengeksplorasi manfaat dari berbagai latihan kognitif, khususnya yang berkaitan dengan working memory. Working memory atau yang juga dikenal sebagai short-term memory bertugas untuk menjaga kesiapan informasi-informasi vital sehingga otak dapat mengaksesnya saat memecahkan suatu masalah. Metal aritmatika adalah salah satu contoh latihan yang mengandalkan working memory. Secara lebih luas sistem penyimpanan ini diduga sebagai salah satu komponen penting dalam fluid intelligence.

Banyak hasil penelitian yang telah menunjukkan bahwa variasi working memory pada individu berdampak setidaknya 25% pada variasi fluid intelligence. Penelitian di JonidesLab menunjukkan bahwa memperkuat kemampuan ini dapat meningkatkan skor yang diperoleh pada tes yang dipergunakan untuk mengukur fluid intelligence, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Yang mengejutkan, latihan-latihan ini ternyata tidak bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas working memory, akan tetapi dapat membuang informasi-informasi yang tidak diperlukan dari memory ini. Lebih lanjut, mereka menemukan bahwa semakin banyak latihan yang dilakukan maka bagian otak yang dipergunakan oleh working memory menjadi semakin tidak aktif. Ini artinya otak semakin efisien dalam memanfaatkan working memory sehingga proses yang dilakukan semakin cepat. Akan tetapi, area yang sama menjadi lebih aktif ketika beristirahat. Hal ini menunjukkan bahwa otak menjadi lebih siap untuk melakukan berbagai jenis tugas.

Apakah latihan dapat meningkatkan kecerdasan?

Pada tahun 90-an para ahli psikologi dan neuroscience membuat terobosan besar dalam memahami proses kognitif yang mendasari fluid intelligence, terutama peran prefrontal cortex, bagian otak yang memiliki fungsi eksekutif. Prefrontal cortex yang terletak di belakang kening diantaranya berfungsi untuk mengatur atensi, impuls dan mengkoordinasikan informasi yang datang dari berbagai bagian otak lainnya. Fungsi-fungsi ini memungkinkan manusia untuk melakukan perencanaan, membuat keputusan, mengidentifikasi kesalahan dan melanggar kebiasaannya. Seiring dengan berkembangnya pemahaman akan hal ini muncullah pertanyaan mengenai kemungkinan adanya intervensi yang dapat memperkuat fungsi-fungsi ini dan apakah meningkatnya fungsi-fungsi ini dapat meningkatkan daya pikir. 

Torkel Klingberg dan rekan-rekannya dari Sweden’s Karolinska Institute merupakan salah satu kelompok pakar yang berupaya untuk menjawab pertanyaan ini. Pada tahun 2002 mereka membangun sebuah program komputer khusus untuk melatih working memory dan menerapkannya pada tujuh orang anak yang menderita Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Mereka meminta tujuh penderita ADHD lain untuk memainkan permainan komputer yang lebih sederhana. Setelah lima minggu kelompok yang memainkan program pelatihan working memory menunjukkan penurunan simtom ADHD yang mereka idap. Yang lebih menggembirakan, mereka dapat memperoleh skor yang lebih tinggi ketika diuji dengan tes pengukuran fluid intelligence yang ada. Hasil serupa juga ditemui ketika eksperimen ini diulangi pada sampel yang melibatkan 44 orang anak. Simpulan ini memnginspirasi para ahli kognitif lain untuk mempelajari lebih lanjut manfaat fungsi ekskutif dalam upaya meningkatkan IQ.

Selama dekade terakhir para peneliti telah memperoleh kemajuan yang menggembirakan. Melatih atensi anak dan melatih kemampuan mereka dalam musik terbukti dapat meningkatkan skor intelegensia. Memainkan permainan kartu yang khusus didesain untuk melatih nalar selama 20 jam, terbukti dapat meningkatkan skor IQ, dari anak-anak yang memiliki tingkat sosio-ekonomi rendah, setidaknya sebanyak 13 poin. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa fluid intelligence yang dimiliki oleh orang dewasa meningkat setelah memainkan game komputer Rise of Nation, atau latihan lain yang menuntut penggunaan working memory (Kalau ada yang mau eksperimen pakai seri games Total War, Civilization atau FIFA Manager undang saya jadi subjek ya........ :D).

Para peneliti di JonidesLab juga berupaya untuk mendesain intervensi yang menuntut subjek untuk dapat mengubah-ubah perhatiannya dari satu informasi ke informasi lain. Proses desain ini dilakukan dengan memodifikasi suatu uji yang disebut The n-back test. Pada tes ini partisipan diminta untuk mengingat gambar, huruf atau angka yang muncul pada selang waktu ke n yang telah lalu.

Ilustrasi n - back test dengan n = 2. Pada tes ini partisipan diminta untuk mengingat gambar yang muncul dua langkah sebelumnya. Urutan seluruh gambar yang muncul adalah ular, sapi, macan tutul, sapi, ayam jantan, macan tutul. Sumber gambar http://www.wpclipart.com/, lisensi gambar public domain (PD)
Tes hasil modifikasi ini disebut dengan The dual n-back test. Pada uji ini partisipan diminta untuk mencocokan gambar yang muncul dan suara yang diperdengarkan di komputer. Latihan yang dirancang di JonidesLab dapat diubah-ubah tingkat kesulitannya dengan meningkatkan nilai n. Akibatnya tantangan yang dihadapi partisipan meningkat seiring dengan peningkatan kemampuan mereka. Dengan demikian mereka meyakini bahwa latihan yang mereka rancang dapat berfungsi sebagaimana latihan kardiovaskular yang dapat meningkatkan berbagai aspek kemampuan berfikir yang dimiliki manusia.

Desain latihan dual n-back dan reaksi spontan responden

Dengan dapat memvariasikan tingkat kesulitan yang mereka rancang, para peneliti ini berharap dapat mengesampingkan peningkatan skor yang terjadi akibat repetisi. Mereka berharap bahwa skor yang terukur merupakan hasil dari keputusan yang dibuat secara spontan oleh partisipan. Para peneliti telah lama memperdebatkan apakah latihan otak benar-benar dapat meningkatkan kecerdasan atau hanya membiasakan otak untuk memecahkan suatu permasalahan tertentu. Misalnya, dalam kompetisi dimana peserta diminta untuk menghafalkan 200 nama orang yang baru mereka kenal secara terurut. Mereka mampu untuk mengingat nama-nama ini karena otak mereka terbiasa untuk menghafal, tetapi bukan karena mereka menjadi lebih cerdasa. Modifikasi n-back test ini dipercaya mampu melatih banyak aspek dari kemampuan berfikir.

Manfaat latihan dual n-back untuk meningkatkan skor intelegensia 

Eksperimen yang dilakukan di JonidesLab menguji manfaat latihan ini pada 70 orang dewasa muda. Para partisipan dibagi dalam empat kelompok. Setiap kelompok melakukan latihan dual n-back selama satu, dua, tiga atau empat minggu. Dibentuk juga satu kelompok tambahan yang tidak melakukan pelatihan dual n-back sama sekali. Tes paska perlakuan yang dilakukan menunjukkan bahwa skor kelompok yang tidak melakukan pelatihan dual n-back tetap. Keempat kelompok yang melakukan pelatihan duan n-back meningkat secara signifikan. Besar peningkatan skor yang terjadi proporsional dengan lama pelatihan yang diterima setiap kelompok. Semakin lama pelatihan yang diterima maka peningkatan skor yang terjadi semakin dramatis. Eksperimen lanjutan yang melibatkan kelompok dewasa usia 65 tahun atau lebihpun menunjukkan hasil yang serupa.

Eksperimen yang dilakukan terhadap anak-anak menujukkan variasi hasil yang lebih beragam. Untuk melakukan eksperimen ini latihan dual n-back dikonversi ke dalam bentuk game. Para partisipan yang rata-rata berusia sembilan tahun berlatih dengan game ini selama sebulan. Kelompok anak lain dilatih selama sebulan dengan menggunakan software knowledge trainer. Software ini bertujuan untuk memperkenalkan fakta-fakta umum dan kosa kata.

Tidak seluruh anak yang melakukan latihan dual n-back berhasil meningkatkan skor intelegensianya. Sebagian menunjukkan minat yang rendah bahkan merasa frustasi ketika tingkat kesulitan dinaikkan. Akan tetapi anak yang berhasil meraih skor tinggi pada game ini juga menunjukkan peningkatan skor intelegensia yang tinggi. Bahkan tiga bulan setelah pelatihan ini usai, anak-anak ini mampu mempertahankan sebagian besar peningkatan fluid intelligence yang mereka peroleh. Sementara, kelompok anak yang dilatih dengan menggunakan software knowledge trainer tidak merasakan manfaat yang serupa.

Pengkondisian Mental

Para peneliti menyimpulkan bahwa n-back training berdampak mengurangi renspons spontan yang muncul karena impuls yang bersifat rutin. Sebagai contoh, anak-anak yang dilibatkan dalam eksperimen di JonidesLab ini telah dites terlebih dahulu sebelum mengikuti pelatihan. Dalam tes ini mereka ditujukkan serangkaian huruf secara acak. Mereka harus menjawab "ya" setiap kali meliht huruf yang bukan huruf X. Karena 90 persen huruf yang ditampilkan bukan huruf X, maka anak-anak terbiasa untuk secara cepat menjawab "ya" (walaupun kadang-kadang yang ditampilkan adalah huruf X). Setelah mengikuti latihan n-back, respons yang diberikan anak-anak ini dalam tes yang serupa lebih lambat, akan tetapi tingkat kesalahannya menjadi berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa latihan n-back dapat meningkatkan kewaspadaan manusia dalam membuat keputusan.

Dengan menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) tim peneliti ini juga berupaya untuk mengidentifikasi apakah dampak latihan n-back terhadap kerja otak. Hasil MRI menunjukkan aktifitas yang tinggi di bagian prefrontal dan parietal cortex, dibelakang frontal cortex, pada hari-hari awal eksperimen. Pola ini umum ditemui ketika otak tengah menggunakan banyak working memory. Akan tetapi setelah menjalani latihan selama seminggu, aktifitas di daerah ini berkurang, padahal performa partisipan dalam latihan meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa latihan ini dapat meningkatkan efisiensi kerja otak, sama halnya seperti mesin mobil yang tidak membutuhkan lagi banyak daya setelah berjalan dengan perseneling yang tinggi. Selain itu, hasil MRI juga menunjukkan bahwa, setelah melakukan latihan, aliran darah di otak meningkat ketika otak sedang beristirahat. Aliran darah yang lebih banyak ini menunjukkan ondisi otak yang lebih fit dan lebih siap untuk menerima tugas selanjutnya. Pola-pola MRI ini dianggap dapat menjelaskan mengapa latihan n-back dapat meningkatkan working memory dan skor intelegensia seseorang. Hal ini juga dianggap dapat menjelaskan mengapa manfaat yang diperoleh dapat bertahan untuk jangka waktu yang cukup lama setelah eksperimen selesai.

Tentu saja dampak yang diperoleh dari latihan ini dan manfaat yang diperoleh partisipan dari pelatihan ini bervariasi dan masih harus dieksplorasi. Sebagai contoh bagaimana tingkat intelegensia awal dan kebiasaan belajar para partisipan sebelumnya, dapat mempengaruhi dampak yang diperoleh melalui latihan n-back. Selain itu, perlu diteliti bagaimana motivasi yang ditunjukkan oleh partisipan selama melakukan latihan n-back dapat mempengaruhi peningkatan skor yang mereka peroleh.

Selain penelitian-penelitian kognitif ini, para peneliti juga tengah berupaya untuk mempelajari dampak umum dari eksperimen mereka. Misalnya bagaimana peningkatan skor yang diperoleh selama latihan n-back dapat berpengaruh terhadap prestasi akademis dan performa manusia dalam menjalankan tugas sehari-hari. Mereka juga tengah berupaya untuk mengkontekstualkan eksperimen mereka dalam setting pendidikan. Mereka berharap bahawa peningkatan skor intelegensia yang diperoleh dari latihan ini dapat membuat manusia menjadi lebih pandai, lebih sehat dan lebih bahagia.
        

Daftar Pustaka

  • Basak, C.; Boot,  W. R.; Voss,  M. W. and Kramer, A. F. (2008) Can Training in a Real-Time Strategy Video Game Attenuate Cognitive Decline in Older Adults? . Psychology of Aging, Vol. 23, No. 4, pages 765–777
  • Jaeggi, S.M.; Buschkuehl, M; Jonides, J; and Perrig, W.J (2008) Improving Fluid Intelligence with Training on Working Memory. Proceedings of the National Academy of Sciences USA, Vol. 105, No. 19, pages 6829–6833
  • Jaeggi, S.M.; Buschkuehl, M; Jonides, J. and Shah, P. (2011) Short- and Long-Term Benefits of Cognitive Training.  Proceedings of the National Academy of Sciences USA, Vol. 108, No. 25, pages 10,081 –10,086.
  • JONIDES, J., JAEGGI, S. M., BUSCHKUEHL, M. & SHAH, P. 2012. Building Better Brains. Scientific American.
  • Klingberg, T.; Fernell, E.; Olesen, P.J; Johnson, M.; Gustafsson, P.; Dahlström, K.; Gillberg, C.G.; Forssberg, H. and Westerberg, H. (2005) Computerized Training of Working Memory in Children with ADHD—A Randomized, Controlled Trial. Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, Vol. 44, No. 2, pages 177–186
  • Mackey, A.P.; Hill, S.S.; Stone, S.I. and Bunge, S.A. (2011) Differential Effects of Reasoning and Speed Training in Children. Developmental Science, Vol. 14, No. 3, pages 582–590
  • Moreno, S. Bialystok, E.; Barac, R.; Schellenberg, E.G. Cepeda, N.J. and Chau, T. (2011) Short-Term Music Training Enhances Verbal Intelligence and Executive Function. Psychological Science, Vol. 22, No. 11, pages 1425–1433      

Wednesday, May 28, 2008

Sindrom-sindrom dari Negeri Dongeng

Umumnya, sindrom-sindrom yang diderita manusia dinamai berdasarkan nama ahli yang pertama kali mengamati keberadaan sindrom tersebut. Namun, ada loh sejumlah sindrom yang dijuluki berdasarkan nama karakter pada dongeng atau novel ternama. Misalnya saja sindrom-sindrom berikut ini:

Rapunzel Syndrome: Rapunzel, adalah nama seorang putri dengan rambut yang amat panjang dalam dongeng. Secara medis, sindrom ini disebut juga trichobezoar. Penderita sindrom ini mengalami gangguan usus karena sering memakan rambutnya sendiri. Sindrom ini umumnya muncul pada penderita trichotillomania, kelainan psikologis yang mendorong penderitanya untuk mencabuti rambut dari kepalanya sendiri.

Othello Syndrome: Sindrom ini dinamai berdasarkan nama karakter pada novel karya Shakespeare yang membunuh istrinya akibat ketakpercayaan yang berlebihan. Sindrom ini sering juga disebut kecemburuan delusional. Penderita sindrom ini secara kukuh menyakini bahwa pasangannya adalah orang yang tidak setia. Ketakpercayaan ini ditunjukkan dengan menuduh, membuntuti atau bahkan menyakiti pasangannya untuk membuktikan kesetiaan mereka.
Lady Windermere Syndrome: Nama sindrom ini diambil dari nama tokoh dalam drama karya Oscar Wilde. Sindrom ini disebabkan oleh bakteri yang mengakibatkan batuk secara terus menerus, nafas yang tersengal-sengal dan gangguan paru-paru. Sindrom ini biasanya diatasi dengan mengkonsumsi antibiotic dan obat-obatan anti tuberculosis.

Peter Pan Syndrome: Sindrom ini dinamai berdasarkan nama karakter karya J.M. Barrie yang menolak untuk tumbuh dewasa. Penderita sindrom ini menampakkan ketidak dewasaan dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Mereka menolak untuk diberi tanggung jawab, menolak menerima norma yang berlaku, mengutamakan fantasi yang mereka miliki dan selalu membutuhkan asuhan ibunya.

Mowgli Syndrome: Sindrom ini dinamai berdasarkan nama karakter utama pada buku "The Jungle Book" karya Rudyard Kipling. Sindrom ini menggambarkan anak-anak dengan mental dan kemampuan fisik yang lemah akibat penolakan atau pelecehan dari orang tuanya. Sindrom ini juga menggambarkan anak-anak yang tumbuh tanpa adanya kontak dengan orang lain.

Cinderella's Syndrome: Dinamai berdasarkan karakter dalam cerita karya Charles Perrault. Sindrom ini biasa dialami oleh anak yang diadopsi atau anak tiri. Penderita sindrom ini umumnya akan berfantasi bahwa mereka telah dianiaya atau diterlantarkan oleh orang tua angkat atau ibu tiri mereka.
Pickwickian Syndrome: Nama sindrom ini diambil dari Joe Pickwick, karakter dalam novel karya Charles Dickens, "The Pickwick Papers". Secara medis sindrom ini dikenal juga dengan nama "obesity hypoventilation syndrome". Sindrom ini ditandai dengan kombinasi antara obesitas dan kesulitan bernafas saat tidur.

Huckleberry Finn's Syndrome: Nama sindrom ini diambil dari nama tokoh pada novel karya Mark Twain. Penderita sindrom ini umumnya adalah anak-anak yang memiliki kelebihan secara intelektual. Penderita sindrom ini memiliki kebiasaan untuk melalaikan tanggung jawab yang mereka terima karena merasa tidak setuju dengan pola pengasuhan, atau merasa diabaikan oleh orang tua mereka. Sindrom ini juga dapat diderita oleh anak-anak normal yang terlahir dari orang tua yang memiliki keterbelakangan mental.

Dorian Gray Syndrome: Dorian Gray adalah nama karakter dalam novel karya Oscar Wilde. Dorian Gray adalah seorang pria tampan yang menginginkan potret dirinya dapat bertambah tua menggantikan dirinya sendiri. Penderita sindrom ini memiliki sikap kritis yang berlebihan pada penampilan fisiknya. Mereka tidak mampu berkompromi dengan penuaan, dan amat bergantung pada kosmetik dan produk kecantikan untuk mempertahankan kemudaannya.

Alice in Wonderland Syndrome: Nama sindrom ini diambil dari nama tokoh pada kisah karya Lewis Carroll. Penderita sindrom ini mengalami distorsi visual dan merasa bahwa bagian tubuh atau benda-benda disekitarnya berubah ukuran. Penderita sindrom ini umumnya adalah penderita migran, epilepsi atau orang yang mengkonsumsi narkotika dan obat penenang.

ARTIKEL TERKAIT:

Wednesday, May 14, 2008

10 Jenis Penyakit , Sindrom dan Kelainan Aneh

Di dunia ini memang menyebar banyak sekali penyakit, sindrom atau kelainan. Beberapa diantaranya, amat tidak lazim dan aneh. Kebanyakan penyakit dan sindrom ini disebabkan karena faktor psikologis. Penyakit, sindrom dan kelainan ini dapat saja diderita oleh kerabat dan teman kita. Dengan mengenal penyakit dan sindrom ini, kita dapat menyarankan kepada mereka untuk melakukan pengobatan atau konsultasi.

1. Trichotillomania : Merupakan kelainan kontrol impuls. Penderita kelainan ini terdorong untuk mencabuti rambut yang tumbuh di tubuhnya sendiri. Misalnya, rambut pada kepala, hidung, ketiak atau kaki . Kelainan ini disebabkan karena kelainan serotonin dan dopamine pada otak. Penderita kelainan ini tidak menyadari apa yang mereka lakukan sehingga, kelainan ini dapat dikurangi dengan melakukan pelatihan perilaku (Habit Reversal Training ).

2. Cotard's Syndrome: Penderita sindrom ini sering merasa bahwa dirinya telah meninggal dunia atau pada dasarnya tidak tercipta di dunia ini. Penderita sindrom ini juga dapat saja merasakan bahwa ia sedang kehilangan darah atau organ-organ dalam tubuhnya. Cotard's Syndrome adalah salah satu kelainan neuropsychiatric yang langka. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa, sindrom ini dapat muncul akibat menderita depresi. Sindrom ini diberi nama sesuai dengan penemunya yaitu, Jules Cotard. Pada tahun 1880, Jules Cotard mengangkat kasus dari salah seorang pasiennya, yang mengingkari sebagian anggota tubuhnya (misalnya, ia mengaku bahwa ia tidak mengenal anggota tubuh yang disebut dengan tanga) dan mengklaim bahwa dirinya tidak butuh makan.

3. Kleptomania: Kelainan ini cukup populer di Indonesia. Penyakit ini muncul akibat kelainan serotonin pada otak. Penderita penyakit ini umumnya wanita. Penderita penyakit ini sulit mengendalikan diri untuk tidak mengambil barang miliki orang lain atau dari toko. Tetapi penderita penyakit ini bisa dibedakan dari pencuri biasa karena, barang-barang yang diambilnya adalah barang-barang yang tidak berharga seperti, penjepit kertas, tisu, peniti dll (kalo ngambilnya HP sih emang maling, hajar ajahhhhh hehehehe....). Kelainan ini dapat diobati dengan melakukan Cognitive-behavioral therapy.

4. Stendhal Syndrome: Penyakit ini menyebabkan penderitanya mengalami sakit kepala, jantung berdebar-debar dan halusinasi saat melihat benda-benda seni (terutama yang bagus dan besar). Nama penyakit ini diambil dari nama seorang penulis Perancis pada abd ke 19. Dalam bukunya yang berjudul "Naples and Florence: A Journey from Milan to Reggio", Stendhal mengungkapkan pengalamannya saat melihat benda-benda seni di Florence. Penyakit ini diteliti pertama kali oleh psikiatris Italia, Graziella Magherini, pada tahun 1979. Ia mengamati 100 orang turis asing yang mengalami gejala yang sama dengan Stendhal saat mengunjungi Florence.

5. Exploding Head Syndrome: Penderita kelainan ini merasakan munculnya suara keras atau ledakan dari dalam kepalanya. Perasaan ini dapat menimbulkan ketakutan atau membuat penderitanya kehilangan kesadaran. Penyakit ini lebih banyak diderita oleh wanita. Walapun belum diketahui penyebabnya, penyakit ini diduga muncul akibat stress dan kelelahan.

6. Capgras Delusion: Penyakit ini menyebabkan penderitanya merasa bahwa beberapa anggota keluarganya telah digantikan oleh orang lain yang menyerupai mereka. Gejala ini umum dijumpai pada penderita schizophrenia, pengguna narkoba, mantan penderita stoke atau orang yang pernah mengalami cedera otak. Penyakit ini membuat penderita enggan untuk bergaul dengan anggota keluarga yang dicurigainya. Penyakit ini pertama kali diamati oleh Joseph Capgras dan Reboul-Lachaux pada tahun 1923.

7. Pica: Penyakit ini mendorong penderitanya untuk memakan barang-barang yang umumnya tidak dianggap makanan misalnya tanah, baru, kapur, kertas, korek api dll. Penderita pica juga terdorong untuk mengkonsumsi bahan-bahan pembuat makanan yang masih mentah misalnya tepung, bawang mentah dll. Sejumlah ahli menduga bahwa, Pica disebabkan karena kekurangan mineral tertentu tetapi, dugaan ini belum dapat dibuktikan secara kuat.
8. Genital Retraction Syndrome: Sindrom ini menyebabkan penderitanya menjadi panik. Pria penderita penyakit ini merasa bahwa penisnya menyusut hingga akhirnya menghilang karena masuk ke dalam pinggulnya. Wanita penderita sindrom ini akan merasa bahwa payudaranya mengecil dan berangsur-angsur menjadi rata. Beberapa penderita bahkan merasa bahwa dirinya telah menjadi korban guna-guna, atau tenung.

9.Stockholm syndrome: sindrom ini biasa di derita oleh para korban penyanderaan. Ketimbang dendam terhadap penyandera, si korban malah bersikap loyal terhadap penyandera. Para mengalami ikatan emosional dengan para penyandera dan kerap berusaha melindungi penyandera dari sergapan aparat. Sindrom ini juga kerap diderita oleh para korban pemerkosaan, penculikan atau anak korban kekerasan seksual. Sindrom ini pertama kali di amati pada para koban penyanderaan di sebuah bank di Stockholm, Swedia, pada tahun 1973. Setelah enam hari disandera, para korban malah berbalik membela para penyanderanya.

10.Jerusalem Syndrome: Sindrom ini adalah salah satu jenis religious psychosis yang muncul setelah mengunjungi Jerussalem. Penderita sindrom ini merasa bahwa dirinya adalah seorang nabi yang diutus oleh tuhan. Akibatnya, mereka berusaha mendakwahkan ajaran-ajaran mereka yang diklaim berasal dari tuhan. Mereka sering menuduh orang lain sebagai pendosa yang harus melakukan pertobatan dengan tuntunan mereka. Sindrom ini biasanya muncul setelah beberapa minggu meninggalkan Jerusalem. Wah, sindrom ini penting nih untuk diketahui sama aparat berwenang karena, bisa saja para penyebar aliran sesat di Indonesia menderita sindrom serupa hehehe......

ARTIKEL TERKAIT:

ShareThis